
Sebagai orang
Islam, kita sering mendengar kata takwa. Perlu diketahui bahwa takwa merupakan
salah satu bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah. Orang yang bertakwa
adalah orang yang senantiasa melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan
menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya.
Allah swt
berfirman dalam Q.S. Ali Imran ayat 102 yang berbunyi “Bertakwalah kamu
sekalian dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu sekali-kali mati
kecuali dalam keadaan muslim”. Hal ini memberikan indikasi bahwa sebagai
orang Islam kita wajib ta’at kepada Allah, tidak ditentang, diingat, tidak
dilupakan serta tidak dikufuri. Dengan ketakwaan derajat kita juga akan diangkat
oleh Allah swt sebagaimana firmannya dalam Q.S al-Hujurat [49]: 13. Oleh sebab
itu, alangkah baiknya apabila kita mengetahui lebih dalam mengenai konsep takwa
dalam kitab suci Al-Qur’an.
Baca Juga: Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur'an
Baca Juga: Batasan "Makmum Mendahului Imam" yang Membatalkan dan yang Tidak Membatalkan Shalat
Pengertian Takwa
Takwa secara
bahasa adalah takut. Adapun secara istilah yaitu menjalani apa yang telah
disyari’atkan serta manjauhi apa yang dilarang-Nya. Allah swt memerintahkan
orang muslim untuk bertakwa sebelum Allah memerintahkan hal lainnya agar takwa
tersebut menjadi pendorong bagi mereka untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya
sebagaiman firman Allah dalam Q.S. al-Maidah [5]: 35.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا
إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (35)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya
supaya kamu mendapat keberuntungan” (Q.S al-Maidah [5]: 35)
Sementara
menurut Syaikh Allan As-Shiddiqy, lafal “Taqwa” secara etimologi ialah berasal dari lafal “Qawa” yang memiliki arti sesuatu yang dapat menutupi kepala. Adapun
secara terminologi, takwa adalah melaksanakan segala apa yang diperintahkan
oleh Allah dan menjauhi segala larangan-Nya sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki oleh setiap masing-masing individu (Al-Shiddiqy, t.th: 304).
Dalam hal ini, Al-Qur’an juga menjelaskan tentang definisi takwa, diantaranya
ialah:
1. Takwa
berarti ta’at dan beriman
وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا
تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
وَإِيَّايَ فَاتَّقُون (41)
“Dan
berimanlah kamu kepada (Al-Qur’an) yang telah aku turunkan yang membenarkan apa
(Taurat) yang ada pada kamu dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir
kepada-Nya. Jangan kamu jual ayat-ayatku dengan harga murah dan bertakwalah
hanya kepada-Ku” (Q.S al-Baqarah [2]: 41).
Tafsir potongan ayat “Fattaqun” pada ayat ini ialah perintah untuk beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya serta mengikuti perkara yang benar, meninggalkan sesuatu yang
bersifat duniawi dan lebih mengamalkan ama-amal akhirat, sebagaiman yang telah
dijelaskan oleh Al-Maraghi (1946: 101).
2. Takwa
berarti takut
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى
كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (281)
“Dan takutlah pada hari
(ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi
balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka
tidak didzalimi.” (Q.S al-Baqarah [2]: 281).
Al-Sa’di
menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ayat yang terakhir turun dalam Al-Qur’an
serta menjadi terkahir dalam hal hukum, perintah dan larangan dalam Al-Qur’an
sebab di dalamnya memuat janji tentang kebaikan dan janji tentang perbuatan
jelek (Al-Sa’di, 2000: 117). Al-Maraghi menafsiri lafal “Wattaqu” pada ayat tersebut
dengan takut yakni perintah agar kita takut terhadap hari kiamat yang mana pada
waktu itu segala urusan duniawi telah usai (Al-Maraghi, 1946: 101).
3. Takwa
berarti membersihkan diri dari dosa
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (52)
“Barang siapa yang
ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa
kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (Q.S al_Nur
[24]: 52).
Pada ayat ini, Syaikh Wahbah Zuhaili
menyebutkan bahwa barang siapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya serta
meninggalkan larangan-Nya dan ia takut atas dosa yang telah berlalu (perintah
bertaubah) lalu, ia juga takut terhadap perkara yang akan datang maka, ia
termasuk orang yang beruntung (Wahbah Zuhaili, 2001: 285).
Ciri-Ciri Orang yang
Bertakwa Menurut Al-Qur’an
1. Beriman kepada Allah dan perkara yang ghaib (Q.S al-Baqarah [1]:
2-3)
2. Sholat, zakat dan puasa (Q.S. al-Baqarah [2]: 177-183)
3. Infaq di saat lapang dan sempit (Q.S. Ali Imran [3]: 133-134)
4. Menahan amarah dan memaafkan orang lain (Q.S. Ali Imran [3]: 134)
5. Takut kepada Allah (Q.S. al-Maidah [5]: 28)
6. Menepati janji (Q.S. al-Taubah [9]: 4)
7. Berlaku lurus pada musuh ketika mereka melakukan hal yang sama (Q.S.
al-Taubah [9]: 7)
8. Bersabar dan mendukung kebenaran (Q.S. Ali Imran [3]: 146)
9. Tidak meminta ijin untuk tidak ikut berjihad (Q.S. al-Taubah [9]: 44)
10. Berdakwah agar terbebas dari dosa ahli maksiat (Q.S.
al-An’am [9]: 69)
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Pajang
Menurut Maman A. Jauhari, sulit bagi seseorang untuk meraih takwa
tanpa menyadari dan memahami seperti apa ciri-ciri “al-Muttaqin” (orang-orang ahli takwa). Menurutnya ciri-ciri takwa
paling sedikit ialah ada 27 ciri yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an yang
kemudian oleh beliau dikelompokkan menjadi empat kelompok:
1. Keta’atan absolut kepada Allah. Dalam hal ini meliputi beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat Allah, beriman kepada yang ghaib, beriman kepada para Nabi, beriman
kepada kehidupan akhirat, beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, Allah lah tempat meminta pertolongan,
Allah swt Maha Pemurah tempat berlindung, takut akan siksa Allah walau tidak
dapat melihatnya dan takut akan tibanya hari kiamat.
2. Karakter Pribadi.
Dalam hal ini termasuk menepati janji, sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
dalam peperangan, tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di
jalan Allah swt, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh, meyakini
kesenangan di dunia hanya sebentar dan akhirat lebih baik, bila ditimpa was-was
oleh syaitan selalu ingat kepada Allah, menahan amarah, memaafkan kesalahan
orang, keimanan kepada Allah bertambah manakala menghadapi ancaman.
3. Karakter Sosial,
yaitu berlaku adil, memerdekakan hamba sahaya, memberikan harta yang dicintai
kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan musafir; meafkahkan
sebagian rezeki yang dianugerahkan Allah swt baik di waktu lapang atau sempit.
4. Kompetensi,
yaitu bertadabbur tentang tanda-tanda kekuasaan Allah pada pertukaran malam dan
siang dan pada apa yang diciptakan oleh-Nya di langit dan di bumi. Lalu,
mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah dan membawa kebenaran serta menegakkannya
(Maman A. Djauhari, 2019: 9).
Urgensitas Takwa
Dalam Al-Qur’an maupun
Sunnah, banyak di dalamnya yang menjelaskan tentang urgensitas takwa,
diantaranya ialah sebagai berikut:
1. Syarat diterimanya amal
وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ
مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27)
Dan ceritakanlah wahai Muhammad yang sebenarnya kepada
mereka tentang kisah dua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban
maka, kurban salah satu dari mereka (Habil) diterima dan yang lainnya tidak.
Dia (Qabil) berkata “Sungguh aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesunggguhnya Allah hanya menerima amal dari orang yang bertakwa” (Q.S. al-Maidah [5]: 27).
Kisah
Qabil dan Habil yang diperintahkan untuk mempersembahkan kurban. Maka, Allah
hanya meneriman persembahan qurban dari Habil sebab Qabil tidak ridha atas
ketentan Allah swt, ia justru memberikan yang terjelek. Lalu, ketika Qabil
bertekad untuk membunuh Habil karena kengkiannya maka, Habil menjawab:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27)
“Sesunggguhnya Allah hanya menerima amal dari
orang yang bertakwa” (Q.S. al-Maidah [5]:
27).
Syaikh Wahbah Zuhaili menjelaskan
bahwa maksud al-Muttaqin (orang-orang bertakwa) pada
potongan ayat tersebut ialah orang-orang yang takut kepada siksa Allah dengan
cara menjauhi perbuatan syirik, segala kemaksiatan seperti riya’, rakus dan
senang mengikuti hawa nafsu (Wahbah Zuhaili, 2001: 153).
Dari
jawaban Habil tersebut maka, dapat diambil pelajaran bahwa orang yang memiliki
rasa dengki pada orang lain maka, ia seharusnya melihat kegagalan akibat
kekurangan dirinya sendiri dan berupaya mengikuti orang yang ia dengki bukan,
justru menghilangkan kenikmatannya. Dalam hal ini Imam Baidhawi juga
menyebutkan bahwa dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa suatu
keta’atan tidak akan diterima oleh Allah swt kecuali disertai dengan keimanan
dan ketakwaan (Al-Baidhawi, 2001: 123)
2. Menjadi orang bertakwa adalah jalan
masuk surga
Dalam Al-Qur’an
banyak yang menjelaskan bahwa surga diperuntukkan bagi orang-orang yang
bertakwa. Penyebutan tersebut sering diirngi dengan karakter-karakter mereka
diantaranya ialah firman Allah swt dalam Q.S. Ali
Imran [4]: 133-134)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ
فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ
النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا
فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى
مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)
Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan kepada Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi,
disediakan untuk orang-orang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan
hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, dan Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan. Juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah lalu memohon ampun atas
dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Q.S. Ali Imran [4]: 133-134)
Dari
beberapa penjelasan mengenai sifat-sifat tersebut, kita dapat mengambil
pelajaran bahwa Allah swt menginginkan dan memerintahkan manusia untuk menjadi
orang yang bertakwa agar dapat nikmat berupa merasakan surga Allah swt. selain
itu, ayat di atas juga memberi pelajaran bahwa untuk menjadi ahli surga maka,
harus melalui beberapa rintangan dan cobaan terlebih dahulu.
3. Takwa
adalah sebaik-baiknya bekal
Sebaik-baiknya bekal
yang secara jelas ialah takwa sebagaiman firman Allah swt dalam Q.S. al-Baqarah
[2]: 197.
الْحَجُّ
أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا
فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ
اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي
الْأَلْبَابِ (197)
Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal
adalah takwa dan bertakwalah kepadaku wahai orang-orang yang beriman
Adapun
Asbab al-Nuzul
ayat tersebut ialah dari Ibnu Abbas r.a, beliau berkata “Penduduk Yaman
pernah melaksanakan ibadah haji namun, mereka tidak membawa bekal, mereka pun
berkata ‘Kita adalah orang-orang yang bertawakkal’ lalu, ketika mereka sampai
di Makkah, mereka meminta-minta kepada orang-orang. Sehingga, turunlah ayat
tersebut’” (Al-Sabuni, t.th: 78). Rasulullah saw bersabda sebagaiman hadis
berikut:
عن أبي ذر جندب بن جنادة وأبي عبد الرحمن معاذ بن جبل رضي الله عنهما
عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : [ اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة
تمحها وخالق الناس بخلق حسن ] رواه الترمذي وقال حديث حسن
Diceritakan dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan dari
Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal R.a dari Rasulullah saw “Bertakwalah kepada
Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan,
niscaya kebaikan tersebut akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan
akhlak mulia”
(H.R Tirmidzi)
Sehingga, dapat kita pahami bahwa takwa adalah melaksanakan
perintah dan larangan Allah swt sementara jika melihat dari ayat Al-Qur’an
maka, pengertian takwa dapat diartikan dengan sesuatu yang lebih khusus misal
takwa berarti beriman dan ta’at kepada Allah. Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan
mengenai karakter atau ciri-ciri orang yang bertakwa sehingga, takwa di sini
tidak hanya diucapkan tetapi juga harus disertai perbuatan. Dengan takwa, akan
mengantarkan seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat
sebagaimana dijelaskan di atas.
Post a Comment for "Konsep Takwa Menurut Al-Qur’an"