Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Refleksi Kebiasaan Berucap Baik dan Buruk Dalam Menggunakan Media Sosial

 

Refleksi Kebiasaan Berucap Baik dan Buruk Dalam Menggunakan Media Sosial

Bagi pegiat media sosial atau pengguna medsos pada umumnya, pasti sering menjumpai berbagai komentar tidak enak yang bermuara pada pengejekan, caci maki dan perkataan-perkataan kotor lainnya dari para netizen. Walaupun toh tanpa kita ketahui apa sebenarnya dibalik maksud dan tujuan dari komentar yang diketik tersebut. Bahkan pada tahun 2019 yang lalu menuai kontroversi di antara beberapa tokoh politik karena kasus tindakan rasis melalui media sosial kepada pihak yang dianggapnya bersalah, penyebab utamanya ialah mengejek langsung pada orangnya, dan jauh dari kritik yang membangun.

Perbuatan ini, seperti yang saya amati adalah refleksi atau cerminan dari perbuatan sehari-hari ketiga berkomunikasi dengan teman, sahabat atau orang lain. Jika seseorang memiliki kebiasaan berkata kotor, sering mengejek dan merendahkan orang lain melalui ucapannya, maka kebiasaan tersebut akan juga mudah terbawa ketika berkomunikasi dalam dunia maya. Demikian sebaliknya, jika kebiasaan sehari-hari seseorang berucap baik dan memiliki kebiasaan memberi kritikan yang membangun, maka kebiasaan tersebut akan juga terbawa dalam bermedsos. Oleh sebab itu, dalam membangun perdamaian dalam dunia maya, tidak cukup hanya melibatkan seorang motivator tanpa melibatkan diri sendiri untuk merubah kebiasaan buruk menjadi baik, seperti kebiasaan berucap kotor pelan-pelan dirubah untuk senantiasa berucap baik.

Islam sendiri menganjurkan berucap baik kepada pemeluknya hal ini termaktub dalam Surah al-Hijr yang bunyinya sebagai berikut:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ (88)

“dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman.” (Q.S al-Hijr [15]: 88)

Al-Sa’di dalam tafsirnya “Taysir al-Karim” menyebutkan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk bersikap lemah-lembut, memperbaiki akhlak serta menebarkan kasih sayang yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw tatkala berhadapan dengan orang-orang yang beriman. Memang secara eksplisit ayat ini tidaklah merepresentasikan tentang berucap baik namun, jika digali melalui penghayatan lebih dalam, maka yang dimaksud lemah lembut di sini adalah dalam hal uacapan maupun perbuatan.

Bahkan seandainya Rasul saw bersikap keras kepada sahabatnya ketika mereka melakukan suatu pelanggaran maka, mereka akan menjauhinya. sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “Maka berkat Rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu” (Q.S Ali Imran [3]: 159)

Jika nilai-nilai kasih sayang dalam ayat ini diterapkan dalam bermedsos, semisal tidak saling merendahkan satu sama lain yang akan menimbulkan hate speech antara satu pihak dengan pihak yang lain ketika salah satunya bertindak sewenang-wenangh maka, tidak akan menimbulkan profokasi yang akan berlanjut bentrok dan perkelahian antar golongan. Sebaliknya ditegur dengan kritik yang apik dan membangun sehingga perdamaian dan keamanan akan terwujud.

Kembali lagi pada kebiasaan tadi, sebagian besar orang memang kurang menyadari bahwa kebiasaan kurang baik mereka akan mudah terbawa dalam konteks dan keadaan yang berbeda. Sebab suatu kebiasaan yang sudah mendarah daging maka, ia akan masuk dalam pikiran bawah sadar sehingga seseorang akan melakukan kebiasaan tersebut tanpa ia disadari, kebiasaan berkata baik atau jelek, misalnya.

Oleh sebab itu, dalam semua amal perbuatan yang dilakukan seharusnya disertai dengan muhasabah/introspeksi diri agar lebih teliti dalam bertindak. Introspeksi ini merupakan salah satu solusi untuk merubah kebiasaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Seseorang yang senantiasa introspeksi diri disertai penghayatan mendalam atas tindakan-tindakan yang dilaluinya maka ia akan mudah tersentuh pikiran dan hatinya untuk berubah kepada yang lebih baik dan agar terwujud dalam dirinya karakter yang kuat.

Kebiasaan berucap baik; lemah lembut, tawadhu’ dan suka memberikan petunjuk kepada orang lain tentang kebaikan maka, ia akan dijauhkan dari api neraka. Pernyataan ini terdapat dalam hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang berbunyi:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ. فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang hendak mendapatkannya, hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memang mengucapkan kebaikan itu mudah namun, jika kebiasaan berucap buruk; mencaci maki, mengejek dan termasuk suka berbohong dengan tujuan merendahkan orang lain maka, akan terasa sulit keluar dari lisan. Untuk itu, rubahlah kebiasaan buruk tersebut dengan senantiasa introspeksi sebagaimana yang disebutkan tadi sebab muslim yang sempurna adalah muslim lainnya merasa damai dari gangguan lidah dan tangannya.

 

 

 

 

 

Post a Comment for "Refleksi Kebiasaan Berucap Baik dan Buruk Dalam Menggunakan Media Sosial"