Teori Iluminasi Suhrawardi
Secara garis besar terdapat dua aliran dalam filsafat yaitu aliran paripatetis dan iluminasi. Aliran paripatetis adalah aliran yang biasanya diikuti oleh sebagian besar kaum filsuf, sedangkan aliran iluminasi adalah saingannya dari aliran paripatetis tersebut. Aliran iluminasi ini dipelopori oleh seorang tokoh filsuf muslim yaitu Suhrawardi Al-Maqtul yang dikenal dengan bapak iluminasi. Lantas seperti apa penjelasan teori iluminasi Suhrawardi?
Secara etimologi, Isyraq (iluminasi) memiliki arti, antara lain terbit dan bersinar, berseri-seri, terang karena disinari dan menerangi. Tepatnya, Isyraqi memiliki kaitan dengan sinar atau cahaya yang pada umumnya digunakan sebagai lambang kekuatan, kebahagiaan, ketenangan dan hal lain yang menguntungkan dan membahagiakan. Sementara lawan dari Isyraqi ialah Dhalalah (kegelapan) yang pada umunya dijadikan sebagai lambang keburukan, kesusahan, kerendahan dan semua yang membuat manusia menderita. Jadi illuminiation (bhs inggris) yang memiliki arti seperti kata Isyraq juga memiliki arti cahaya atau penerangan.
Dalam bahasa filsafat, iluminasi berarti sumber kontemplasi (renungan) atau perubahan bentuk dari kehidupan emosional kepada tindakan dan harmoni. Menurut kaum Isyraqi, hikmah bukan sekedar teori yang diyakini melainkan perpindahan ruhani secara praktis dari alam kegelapan yang terdapat pengetahuan dan kebahagiaan merupakan suatu hal yang mustahil, kepada cahaya yang bersifat akali yang di dalamnya terdapat pengetahuan dan kebahagiaan yang dapat dicapai bersama-sama.
Oleh sebab itu, menurut mereka sumber pengetahuan adalah penyinaran cahaya yang berupa hands (penyeluran) yang menghubungkan dengan substansi cahaya. Cahaya adalah simbol utama filsafat Isyraqi. Simbol cahaya digunakan untuk menetapkan satu faktor yang menentukan wujud, bentuk, dan materi, hal-hal masuk akal yang primer dan sekunder, intelek, jiwa zat individual dan tingkat-tingkat intensitas pengalaman mistik.
Maka dari itu, penggunaan simbol cahaya merupakan karakter dari bangunan filsafat Isyraqi. Namun, perlu diketahui bahwa kata Isyraq sendiri tidak merujuk pada tempat tertentu di atas bumi akan tetapi ia merujuk pada daerah dalam jiwa manusia, tempat pengetahuan atau pencerahan berasal. (Fathurrahman, 2018: 446)
Cahaya tersebut memiliki dua jenis; pertama, ada yang fakir dan membutuhkan seperti cahaya akal dan jiwa manusia. Kedua, ada yang kaya dan absolut dan tidak membutuhkan sama sekali cahaya akal dan jiwa manusia karena tidak ada lagi cahaya di atasnya, yaitu al-Haq yang Maha Suci yang mana Ibnu Sina menyebutnya dengan Wajib al-Wujud bil Dzatih. (Muhammad Sabri, 2010: 428)
Berbagai penyataan pendek dan tepat yang dinyatakan oleh Suhrawardi dalam pendahuluan kitab Hikmah al-Isyraq tentang gambaran teori umum filsafat Iluminasi khususnya posisi intuisi dan pengalaman sebagai dasar epistemologi. Prinsip-prinsip di atas menurut Suhrawardi dibentuk sebagai hasil dari suatu proses yang terdiri dari tiga tahap. Pertama, ditandai oleh aktivitas yang mesti dilakukan oleh seorang filsuf yakni ia harus meninggalkan dunia.
Kedua, ditandai oleh pengalaman-pengalaman tertentu yaitu sang filsuf mencapai visi “Cahaya Tuhan” (al-Nur al-Ilahi). Ketiga, ditandai dengan diperolehnya pengetahuan yang tidak terbatas dan tidak terikat yakni pengetahuan Iluminasi (al-‘Ilm al-Isyraqi).
Sumber-Sumber Pengetahuan yang Membentuk Isyraqi
Menuru SH. Nasr, sumber-sumber pengetahuan yang membentuk pemikiran Isyraqi ialah ada lima aliran.
1. Pemikiran-pemiikiran sufisme. Hal ini dikhususkan karya-karya al-Hallaj (858-913 M) dan al-Ghazali (1058-1111 M). sementara salah satu karya al-Ghazali yaitu Misykat al-Anwar yang menjelaskan adanya hubungan antara nur (cahaya) dengan iman
2. Pemikiran filsafat paripatetik Islam, khusunya Ibnu Sina. Walaupu Suhrawardi mengkritik sebagian sebagian pemikiran Ibnu Sina.
3. Pemikiran filsafat sebelum Islam. Yaitu aliran pythagoras (550-500SM). Platonisme dan Hermenisme sebagaimana yang tumbuh di Alexanderia. Kemudian, dipelihara dan disebarkan di Timur dekat oleh kaum Syabiah Harran, mereka memandang kumpulan aliran Hermes sebagai kita samawi mereka.
4. Pemikiran-pemikiran (hikmah) Iran-kuno. Dalam hal ini Suhrawardi mencoba untuk membangkitkan kembali keyakinan-keyakinan baru dan ia memandang para pemikir Iran-kuno sebagai pewaris langsung hikmah yang turun sebelum datangnya bencana taufan kepada kaum Nabi Idris (Hermes).
5. Bersandar terhadap ajaran Zoroaster dalam menggunakan lambang-lambang cahaya dan kegelapan khususnya dalam ilmu malaikat yang kemudian ditambah dengan istilah-istilahnya sendiri. (A. Khudori, 2011: 7)
Jadi, Isyraqi memiliki kaitan dengan sinar atau cahaya yang pada umumnya digunakan sebagai lambang kekuatan, kebahagiaan, ketenangan dan hal lain yang menguntungkan dan membahagiakan. Doktrin filsafat ini bermula dari pandangan Suhrawardi yang menyatakan bahwa Allah adalah Cahaya dari segala cahaya (Nur al-Anwar) serta sumber bagi segala yang ada. Tentu, pandangan ini didasarkan pada Al-Qur’an surat al-Nur ayat 24 “Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi.” Sehingga, berawal dari ayat ini, lahirlah konsep nur (cahaya) yang membentuk hirarki tertentu.
Post a Comment for " Teori Iluminasi Suhrawardi"