3 Prinsip dalam Menjalani Hidup Ala Syaikh Abdul Qadir al-Jailani R.A.

Kehidupan manusia di dunia, tentu tidak luput dari masalah dan cobaan baik itu ujian tentang ketakutan, kelaparan, kekurangan biaya atau selainnya. Bahkan tidak sedikit karena masalah yang dihadapi menjadikan seseorang putus asa, frustasi dan bahkan menjadikannya jauh kepada Allah swt.
Oleh karenanya, dalam tulisan akan menyajikan beberapa prinsip hidup ala Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang diambil dalam kitab “Lujaini al-Dzanni” karya Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim al-Barzanji R.A. Tentu, selain untuk membudidayakan literasi, hal ini juga bisa dikatakan “Ngalap Barokah” dari Kanjeng Syaikh.
Dalam hal ini terdapat beberapa prinsip hidup yang perlu kita ketahui sebagaimana berikut:
1. Ridha atas Cobaan
Syaikh Abdul Qadir berkata:
وان جاءتك البلوى فاشتغل بالصبر والموافقة
“Apabila datang kepadamu cobaan maka, sibukkanlah dirimu dengan bersabar dan rela atau menerimanya”
Dari ungkapan mutiara tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa agar kita senantiasa menerima serta ridha terhadap cobaan atau ujian yang Allah berikan kepada kita, tentu hal ini sesuai dengan firmannya dalam Q.S. al-Baqarah: 155-156.
وَلَنَبْلُوَنّكُمْ بِشَيْءٍ مّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مّنَ الأمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثّمَرَاتِ وَبَشّرِ الصّابِرِينَ الّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنّا للّهِ وَإِنّآ إِلَيْهِ رَاجِعونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi roji`un” (Q.S al-Baqarah: 155-156)
Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya menjelaskan maksud dari kata al-S}habru pada ayat tersebut ialah menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak baik. Adapun musibah adalah ketetapan Allah swt terhadap makhluknya. Ia adalah didikan Allah terhadap hambanya. Beliau juga menjelaskan bahwa keimanan seorang hamba akan sempurna apabila dididik dengan kekokohan dan keteguhan dalam menghadapi segala cobaan yang menimpa.
Tafsiran ini sangat sesuai dengan ungkapan Kanjeng Syaikh di atas yakni ketika ada cobaan menimpa maka, kita harus menerimanya (ridha) serta tidak melakukan hal-hal yang tidak baik karena masalah tersebut.
2. Bersyukur dan Berdzikir atas segala nikmat
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a. berkata:
فاءن جائتك النعماء فاشتغل بالذكر والشكر
"Jika telah datang kepadamu nikmat-nikmat dari Allah swt maka, sibukkanlah dirimu dengan berdzikir dan bersyukur kepada-Nya"
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (18)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Dalam tafsirnya al-Sa’di menyebutkan bahwa nikmat-nikmat dalam ayat ini meliputi nikmat secara dhohir dan batin terhadap manusia seperti hembusan nafas dan waktu, walaupun hanya sedetik. Tidak hanya iu, hal ini mencakup nikmat yang telah diketahui dan yang belum diketahui oleh manusia dan yang menjadikannya jauh dari bencana atau lebih dari itu semua serta mencakup terhadap nikmat yang dapat dihitung.
Beliau juga menyebutkan bahwa sungguh Allah swt ridha terhadap hamba-hambanya yang hanya sedikit bersyukur dibanding dengan nikmat-Nya yang sangat luas. (Al-Sa’di, 2000: 437).
Selain itu kita juga diperintah agar selalu ingat dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir. Syaikh Abdul Qadir berkata:
اتبعوا ولاتبتدعوا واطيعوا ولاتمرقوا واصبروا ولاتجزعوا وانتظروا الفرج ولاتياءسوا واجتمعوا على ذكر الله تعالى ولا تتفرقوا وتطهروا بالتوبة عن الذنوب ولاتتلطخوا وعن باب مولاكم لاتبرحوا
“Ikutilah dan jangan menentang, ta’atilah dan jangan merusak, bersabarlah dan jangan khawatir, nantilah suatu kelapangan dan janganlah putus asa. Berkumpullah kalian semua dalam berdzikir kepada Allah dan jangan memisahkan diri, sucikanlah dirimu dari dosa dengan bertaubat dan janganlah kau nodai dirimu, selalulah mendekatkan diri kepada Allah swt”
3. Tidak terlalu memikirkan dunia
Syaikh Abdul Qadir r.a. berkata:
الفقير الصابر افضل من الغني الشاكر والفقير الشاكر افضل منهما والفقير الصابر الشاكر افضل من الكل وما احب البلاء والتلذذ الا من عرف المبلي
“Orang fakir yang bersabar lebih utama dari pada orang kaya yang bersyukur dan orang fakir yang bersyukur lebih utama dari keduanya. Kemudian, orang fakir yang bersabar dan bersyukur, ia lebih utama dari semuanya. Seseorang tidaklah menyukai suatu musibah dan kelezatannya kecuali ia mengetahui dzat yang memberinya ujian (Allah)”
Dari ungkapan Kanjeng Syaikh tersebut tentu tujuan utamanya bukan untuk membandingkan mana yang lebih baik antara yang miskin dan yang kaya akan tetapi, ungkapan Kanjen Syaikh di atas ialah agar kita termotivasi terus beribadah baik dalam keadaan miskin atau pun dalam keadaan kaya.
Ungkapan tersebut juga menjadi pelajaran bagi kita agar kita tidak terlalu mencintai dan memikirkan dunia seperti ingin kaya atau takut dengan kemiskinan yang dapat menyebabkan kita jauh dari Allah swt. Hal ini didukung dengan ungkapan ulama’ Sufi dalam kitab “Fawaid wa al-Akhbar”:
إذا أنت اشتغلت بالعبادة فلا تخافن الفقر، إنما ينبغي لك أن تخاف أن تفتح عليك الدنيا، فتقطعك عن العبادة
“Jika kamu menyibukan dirimu dengan ibadah maka, janganlah takut terhadap kefakiran. Sungguh, seyogianya kamu takut akan dibukakan pintu dunia untuk mu lalu, menjadikanmu terlepas dari beribadah kepada Allah” (Syaikh Abu Ali bin Himkan, 2001: 152).
Jadi, baik dalam keadaan miskin atau dalam keadaan punya (kaya) maka, kita harus senantiasa beribadah kepada Allah serta bersabar dan bersyukur kepada-Nya. Sebab tidak mungkin kita mengatakan orang miskin yang mana ia tidak pernah sabar dan bersyukur terhadap keadaannya lebih baik dari orang kaya.
Kemuliaan seseorang bukanlah diukur dari kaya atau miskin namun, diukur dari ketakwaannya kepada Allah swt, sebagaimana friman-Nya dalam Q.S. al-Hujurat: 13.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Q.S al-Hujurat: 13)
Dengan mengetahui prinsip hidup ala Syaikh Abdul Qadir ini, semoga kita diberikan hati yang lapang dalam menghadapi segala permasalahan hidup dan mendapat barokah dari Kanjeng Syaikh. Aamiin. (LH)
Wallahu A'lam.
Post a Comment for "3 Prinsip dalam Menjalani Hidup Ala Syaikh Abdul Qadir al-Jailani R.A."